Waspadai Aliran Sesat Kafir Syiah dan Ahmadiyah
Rabu 2. Syawal 1435 / 30 Juli 2014
Home
Sabtu, 23 November 2013 - 05:26:00 WIB
Dibaca: 196 kali

Waspadai Aliran Sesat Kafir Syiah dan Ahmadiyah

Sunnahdefenceleague.com

Syiah Ja’fari atau Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam atau Imamiah) meyakini bahwa imamah (keimaman, kepemimpinan) merupakan penunjukan langsung dari Tuhan sebagaimana halnya dengan kenabian.

Mereka juga mengklaim sebagai pengikut Ahlul Bait (keluarga Nabi) dan hanya mengakui hadits-hadits yang berasal dari Ahlul Bait. Padahal saksi mata kehidupan Rasululloh tidak hanya Ahlul Bait tapi juga banyak kaum muslimin yang bersama-sama dengan beliau pada waktu itu, sehingga seharusnya informasi tentang ajaran Rasululloh tidak hanya berasal dari Ahlul Bait, tapi juga dari siapapun yang menyaksikan kehidupan beliau yakni para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ironisnya, Syiah menolak hadits-hadits yang diriwayatkan dari Aisyah, Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Padahal Aisyah, anak Abu Bakar, adalah istri Rasululloh sedangkan Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah sahabat dekat Rasululloh yang tentunya menjadi saksi langsung kehidupan Rasululloh. Penganut Syiah menolak hadits-hadits dari mereka bukan atas dasar rasionalitas tapi semata-mata berdasarkan kebencian.

 Penolakan ini jelas tidak masuk akal, bagaimana mungkin Aisyah yang menjadi istri Rasululloh yang notabene hidup serumah dengan Rasululloh tapi hadits-hadits darinya ditolak? Seharusnya kita justru menggali informasi sebanyak-banyaknya dari istri-istri dan para sahabat Rasululloh serta kaum muslimin yang semasa hidupnya bersama-sama dengan Rasululloh bukan malah menolaknya karena alasan kebencian atau lainnya.

Sebagai akibat dari penolakan-penolakan ini, informasi tentang ajaran Islam yang dihimpun penganut Syiah menjadi sangat sedikit dan praktis hanya terfokus pada informasi dari madzhabnya saja, sehingga pada akhirnya dalam pemahaman beragama Islam menjadi sempit dan menyimpang.

Berbeda dengan Syiah, faham Ahmadiyah menerima hadits-hadits dari berbagai sumber dan madzhab. Sayangnya, Ahmadiyah membanggakan dirinya dengan mengikuti ajaran seseorang yang sangat kontroversial yang mengklaim dirinya sebagai nabi, mujaddid, dan Isa Almasih. Orang itu adalah Mirza Ghulam Ahmad, sang pendiri aliran Ahmadiyah, seorang yang berasal dari Qadian, India. Dia memproklamasikan dirinya sebagai nabi yang konon tidak membawa syariat baru, padahal ajaran-ajarannya dalam kitab Tadzkirah jelas-jelas memuat banyak ajaran baru.

 Dia juga menyatakan dirinya sebagai penjelmaan Isa Almasih atau Almasih yang dijanjikan sebagaimana yang dijanjikan Rasululloh dalam sebuah hadits. Para penganut ajaran Mirza Ghulam Ahmad inilah yang kemudian disebut sebagai penganut Ahmadiyah.

Di negeri kelahirannya, ajaran Ahmadiyah ditolak dan sulit berkembang karena mendapat banyak tentangan dari umat muslim di sana. Mayoritas ulama di dunia telah sepakat bahwa ajaran Mirza Ghulam Ahmad adalah sesat dan menyesatkan.

Adapun istilah Sunni, semata-mata muncul untuk membedakannya dengan golongan Syiah dan Ahmadiyah serta golongan sesat lainnya. Sunni, yang merupakan golongan mayoritas, menerima semua hadits, informasi, dan referensi dari berbagai sumber secara lebih komprehensif dan adil. Tidak membeda-bedakan atau mengutamakan sumber-sumber tertentu. Perbedaan di dalam Sunni lebih pada masalah penafsiran, bukan pada ajaran madzhab tertentu yang diyakini secara membabi buta tanpa mau mengkonfirmasi dengan sumber-sumber atau madzhab-madzhab yang lainnya. Semua madzhab pasti bersumber pada ajaran Rasululloh meskipun informasi yang sampai boleh jadi dhaif, itu hal yang wajar, karena manusia adalah makhluk yang sering lupa dan salah. Oleh karenanya, sudah seharusnyalah umat muslim mengikuti ajaran Rasululloh dari manapun sumbernya, sepanjang sumber-sumber tersebut  shahih, saling mendukung atau terkait satu dengan yang lainnya dan tidak bertentangan dengan Alquran.

 Tidak seperti golongan Syiah dan Ahmadiyah yang sangat bangga memakai atribut dan embel-embel Syiah dan Ahmadiyah di mana saja mereka berada (tidak hanya di internet), demi mengedepankan faham yang dianutnya. Setiap tahun di awal bulan Muharram para penganut Syiah merayakan hari Asyura untuk memperingati wafatnya cucu Rasululloh, Hussein bin Ali, dengan tidak sedikit dari mereka yang melukai badannya sendiri yang tentu saja ini merupakan kegiatan melampaui batas yang dilarang dalam Alquran.

Di lain pihak, foto Mirza Ghulam Ahmad, sang pendiri Ahmadiyah, tidak hanya dipajang di situs-situs internet Ahmadiyah, tapi juga di masjid-masjid dan rumah-rumah pengikutnya. Akhirnya, tidaklah terlau berlebihan kiranya jika kita harus mengatakan bahwa aliran/ajaran Syiah dan Ahmadiyah adalah sesat dan harus segera ditinggalkan.

Tulisan ini hasil dari Dialog Bersama Ustadz H. Amin Djamaluddin (Ketua LPPI/LembagaPenelitan dan Pengkajian Islam) yang beralamat Kantor LPPI di JlTambak No.40 B Jakarta Pusat yang intinya kita harus Waspadai Aliran Kafir Syiah dan Ahmadiyah.

Oleh: Muhammad Faisal,  S.Pd,  M.MPd (Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat)

Sebarkan!
Raih amal shalih, dengan menyebarkan informasi ini...
Agenda SDL
Advert